Peran Generasi Z dalam Menjaga Kekuatan Bahasa Indonesia di Tengah Perkembangan Teknologi

Bahasa Indonesia adalah simbol persatuan dan identitas bangsa selain sebagai alat komunikasi. Generasi Z memiliki peran penting dalam memastikan bahwa bahasa Indonesia tetap digunakan, berkembang, dan tidak kehilangan nilainya sebagai bahasa nasional di tengah perkembangan teknologi yang semakin pesat.


Sejak ditetapkan sebagai bahasa persatuan melalui Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928, bahasa Indonesia telah menjadi bagian penting dari kehidupan rakyat Indonesia. Masyarakat yang memiliki keanekaragaman suku, budaya, dan bahasa daerah dapat disatukan oleh keberadaan bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia masih berkembang hingga saat ini karena perkembangan zaman, termasuk perubahan yang disebabkan oleh kemajuan teknologi digital.

 

Namun, kemajuan era digital membawa tantangan baru. Masyarakat saat ini semakin sering berkomunikasi melalui internet dan media sosial, yang menghasilkan berbagai perubahan dalam penggunaan bahasa. Dalam komunikasi sehari-hari, istilah asing, singkatan, dan bahasa gaul sangat umum, terutama di kalangan remaja.


Sebuah survei yang dilakukan oleh Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) pada tahun 2024 menunjukkan bahwa jumlah orang di Indonesia yang menggunakan internet akan mencapai 221,5 juta orang, dengan tingkat penetrasi internet sebesar 79,5% dari semua penduduk. Generasi Z menyumbang 34,4% dari total penggunaan internet dalam survei tersebut.


Data menunjukkan bahwa Generasi Z sangat dekat dengan dunia teknologi. Setiap aktivitas mereka, mulai dari belajar, mencari informasi, membuat konten, serta berkomunikasi melalui media sosial, merupakan hal yang berhubungan dengan internet. Dengan demikian, Gen Z dianggap sebagai kelompok yang memiliki pengaruh signifikan terhadap pertumbuhan bahasa Indonesia di ruang digital.


Cara orang menggunakan bahasa telah berubah karena kemudahan berkomunikasi melalui media sosial. Banyak pengguna internet membuat kosa kata baru atau menggunakan kata-kata yang lebih singkat untuk membuat komunikasi lebih cepat dan efisien. Contohnya adalah penggunaan kata-kata yang sering muncul dalam percakapan sehari-hari, seperti "bestie", "healing", "relate", "spill", atau "overthinking". Selain itu, singkatan seperti "gpp", yang berarti "nggak apa-apa", "btw", yang berarti "by the way", dan "otw", yang berarti "on the way", semakin umum digunakan, terutama dalam percakapan informal. Sebenarnya, perubahan ini merupakan bagian dari perkembangan bahasa yang selalu berubah. Bahasa dapat berkembang sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

Meskipun demikian, penggunaan bahasa asing dan bahasa non-standard harus disesuaikan dengan keadaan. Bahasa gaul dapat menjadi bentuk kreativitas dalam komunikasi yang santai. Meskipun demikian, penggunaan bahasa Indonesia dalam lingkungan pendidikan, pekerjaan, dan aktivitas resmi harus diprioritaskan. Khawatir rasa bangga terhadap bahasa sendiri akan berkurang jika generasi muda semakin jarang menggunakannya. Oleh karena itu, mempertahankan bahasa Indonesia tidak berarti menolak pengembangan bahasa lain, tetapi memastikan bahwa bahasa tersebut tetap memiliki peran penting sebagai bagian penting dari identitas bangsa.


Generasi Z tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga menjadi pencipta dan penyebar informasi di ruang digital. Melalui media sosial, blog, podcast, video pendek, hingga berbagai platform kreatif lainnya, Gen Z memiliki kesempatan besar untuk memengaruhi cara masyarakat menggunakan bahasa Indonesia.


Peran tersebut dapat diwujudkan dengan menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan mudah dipahami dalam berbagai konten digital. Ketika Gen Z membuat unggahan, video edukasi, ulasan produk, atau karya tulis menggunakan bahasa Indonesia yang tepat, mereka turut memperkenalkan dan memperkuat penggunaan bahasa Indonesia di ruang publik digital. Dengan jumlah pengguna internet yang besar, dampak dari kebiasaan ini dapat menjangkau masyarakat secara luas.


Selain itu, Generasi Z juga dapat berperan sebagai agen literasi digital. Di tengah maraknya informasi yang beredar di internet, kemampuan menulis dan menyampaikan informasi dengan bahasa yang jelas menjadi sangat penting. Penggunaan bahasa Indonesia yang baik membantu mengurangi kesalahpahaman dan meningkatkan kualitas komunikasi di masyarakat. Dengan demikian, menjaga bahasa Indonesia bukan hanya tanggung jawab lembaga pendidikan atau pemerintah, tetapi juga tanggung jawab generasi muda sebagai pengguna aktif media digital.


Menggunakan Bahasa Indonesia Secara Kreatif, Bukan Kaku Bahasa Indonesia tidak harus selalu dipandang sebagai bahasa yang kaku dan formal. Generasi Z dapat menjadikannya sebagai medium ekspresi kreatif yang fleksibel. Misalnya, melalui puisi digital, konten humor, meme, atau karya seni visual yang menggunakan bahasa Indonesia dengan gaya segar dan komunikatif. Kreativitas ini membuat bahasa Indonesia terasa hidup, relevan, dan mampu bersaing dengan bahasa asing yang sering mendominasi ruang digital. Dengan cara ini, bahasa Indonesia tidak hanya dipertahankan, tetapi juga diperkaya sesuai kebutuhan zaman.


Menjaga kelestarian bahasa Indonesia di era digital bukan sekadar merawat warisan masa lalu, melainkan investasi strategis bagi masa depan Generasi Z dalam membangun karier profesional, industri kreatif, dan diplomasi global. Di dunia kerja dan ekosistem ekonomi digital yang dinamis, penguasaan bahasa Indonesia yang terstruktur dan adaptif sangat dibutuhkan untuk menyusun komunikasi korporat, membuat konten kreatif yang persuasif, hingga mengembangkan lokalisasi teknologi. Terlebih dengan diakuinya bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi Sidang Umum UNESCO, kemahiran berbahasa nasional justru menjadi identitas unik (*personal branding*) yang membedakan Gen Z di kancah internasional, membuktikan bahwa masa depan mereka dan eksistensi bahasa Indonesia adalah dua hal saling mengikat dalam membentuk calon pemimpin serta inovator bangsa.

Komentar